AISYAH:
PEREMPUAN YANG PATUT DITELADANI
Aisyah binti Abu Bakar Abdullah
bin Abi Khafafah berasal dari keturunan mulia suku Quraisy at-Taimiyah
al-Makkiyah adalah putri kesayangan dari sahabat Nabi SAW. Abu Bakar Al-Shiddiq
dari istri keduanya Ummu Ruman binti Amir karena istri pertama Abu Bakar telah
diceraikannya setelah tidak mau diajak untuk masuk ke dalam ajaran Islam.
Aisyah sendiri termasuk golongan orang yang pertama masuk Islam, hal ini karena
memang kedua orang tuanya sudah memeluk Islam dan termasuk orang yang pertama
masuk Islam, sehingga Aisyah berkata:” Sebelum aku berakal, kedua orang tuaku
sudah menganut Islam.”
Aisyah adalah seorang
perempuan cerdas dan berwibawa, sosok perempuan cantik yang dermawan, sabar dan
sangat dicintai oleh Rosulullah, yang menjadi teladan bagi seluruh perempuan
muslim di dunia. Selain itu dia juga dikenal sebagai
politisi yang handal dan pandai dalam strategi perang, sesuatu hal yang tidak
banyak dipunyai oleh perempuan saat itu dan bahkan perempuan masa kini. Dia
lahir sebelum tahun 610 Masehi.
Rosulullah menikahi Aisyah setelah 6 tahun
wafatnya Khadijah. Menjadi istri ketiga Rosulullah setelah Rosulullah Saw
menikah dengan Saudah binti Zam’ah. Aisyah menikah dengan Rosulullah pada usia
7 tahun, tetapi Aisyah baru serumah dengan Rosulullah ketika dia berusia 9
tahun setelah Nabi Saw berhijrah ke Madinah. Aisyah menjadi satu-satunya istri
Rosulullah yang dinikahi ketika masih gadis karena semua istri Rosulullah
adalah janda. Diusianya yang belum dewasa dan masih kecil (belum genap sepuluh
tahun) Aisyah sudah menjadi istri Rosulullah, dan Rosulullah sangat
memakluminya sehingga beliaupun membiarkan Aisyah bermain-main bersama
teman-temannya.
Di usianya yang masih belia Aisyah telah
dikenal sebagai periwayat hadis yang handal. Ia telah meriwayatkan 2210
hadis, 297 diantaranya terdapat di dalam kitab Hadis Bukhari-Muslim. Hafalannya
sungguh luar biasa. Banyak sahabat Rasulullah yang sering menanyakan asal usul
suatu hadis kepadanya, termasuk juga Umar bin Khatab, sang khalifah. Ia dikenal
sebagai sosok perempuan cerdas, pandai berdiplomasi, memiliki lisan yang fasih
dan jika berbicara mampu menarik setiap telinga yang mendengarnya. Urwah bin Az-Zubair ra suatu ketika pernah berkata : ” Aku tidak
melihat ada seseorang yang lebih pandai dalam ilmu agama, lebih pandai dalam
bidang kedokteran dan lebih pandai dalam bidang syair daripada Sayyidah
Aisyah ra. ”
Pada perang Khandaq,
diberitakan bahwa Umar bin Khatab terpaksa menegur Aisyah karena
keberaniannya yang luar biasa maju menerobos ke bagian depan barisan
pasukan hingga membahayakan keselamatan dirinya. Anas
bin Malik ra meriwayatkan, ia berkata : ”Anas mencatat bahwa pada hari
Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. Pada hari itu, aku
melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit
pakaiannya, untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb.”
Aisyah berpendapat bahwa beraktifitas adalah
merupakan keharusan dan tuntutan bagi setiap perempuan. Setiap perempuan tidak
boleh hanya duduk di dalam rumah tanpa berpikir untuk melakukan sesuatu yang
berguna yang dapat membantu meringankan beban lingkungannya namun tentu
saja tanpa mengabaikan peran utamanya di rumah dan mendidik anak-anaknya.
Allah swt memang tidak menganugerahi Aisyah seorangpun anak. hingga
dengan demikian ia dapat secara maksimal mencurahkan seluruh kehidupannya bagi
masyarakat dan lingkungannya. Ia berkata : ” Alat tenun di tangan seorang
perempuan bisa bernilai lebih baik dari tombak di tangan orang yang berjuang
dijalan Allah SWT ”.
Adakah Perempuan Sekarang Seperti Aisyah?
Membaca kepribadian Aisyah, penulis lebih tertarik
membandingkan dengan perempuan sekarang ini. Karenanya penulis akan memaparkan
beberapa hal mengenai Aisyah. Sosok Aisyah R.A adalah termasuk seorang
perempuan yang sangat zuhud dan qanaah. Zuhud,
wara' menyukai ibadah, sederhana, baik dan penuh kasih sayang menjadi
kepribadian Aisyah R.A.
Dari sekian banyak akhlak baik yang melekat
pada Aisyah, ada 3 hal yang membuat saya takjub dan berpikir bahwa perempuan
zaman sekarang, termasuk saya harus benar-benar terus mengingat ini dalam
berinteraksi dengan sesama.
Pertama, Aisyah sangat menjaga diri dari ghibah. Zaman sekarang perempuan mana yang tidak suka bergunjing
(ghibah). Bahkan tanpa bertatap wajah saja pergunjingan dan percakapan yang
menyakiti hati orang lain bisa terjadi. Dunia maya menjadi ajang ghibah. Tekhnologi menjadi ajang untuk berbagi -berbagi aib
saudaranya- tanpa malu diketahui publik.
Aisyah tidak pernah mau menjelekkan orang lain, hatta itu madunya sendiri.
Meskipun pernah terjadi percekcokan atau rasa cemburu antara beliau dengan
istri-istri Nabi yang lain, tetapi tak pernah sekalipun Aisyah menjelekkan
mereka. Aisyah dengan lapang dada dan luas hati menyebutkan kelebihan dan
keistimewaan masing-masing madunya dengan perkataan yang terpuji.
Kedua,
Aisyah sangat menghindari pujian dan sanjungan. Aisyah
sangat tidak suka dirinya dipuji.Begitu juga jika disanjung di depan umum.
Berbeda sekali dengan perempuan sekarang yang selalu haus akan pujian.
Tak henti mencari perhatian orang lain hanya sekedar mendapatkan sanjung dan
puji. Memamerkan kelebihan diri (kecantikan) di depan khalayak dan melupakan
rasa malu.
Pernah suatu saat Ibnu Abbas ingin menemui Aisyah menjelang ajalnya.
Tetapi Aisyah tahu bahwa Ibnu Abbas pasti akan memuji-muji, sehingga ia menolak kedatangannya. Namun, setelah banyak
orang memohon padanya akhirnya Ibnu Abbas diizinkan masuk. Dan terbukti. Ibnu
Abbas kembali memujinya. Saat itu Aisyah berkata " aku ingin dilupakan
orang."
Bagaimana dengan perempuan sekarang?
Kebalikan dari Aisyah, sangat suka disanjung dan dipuji. Bahkan terkadang ujub
selalu menemani dirinya.
Ketiga, Aisyah adalah sosok pemberani. Aisyah
merupakan perempuan pemberani. Tak jarang ia ikut andil dalam peperangan yang
berlangsung. Pada saat perang khandaq, Ia turun dari benteng melindungi
Nabi, para istrinya, dan anak-anak. Bahkan ia ikut maju kebarisan terdepan. Perang Uhud pun, Aisyah juga ikut terjun ke medan perang.
Saat itu, ketika pasukan kaum muslimin kocar kacir, ia turun langsung memberi
minuman pada orang-orang yang terluka, dan mengusung bejana air untuk diberikan
kepada para mujahid.
Keutamaannya dan Keluasan Ilmunya
Beliau, Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq,atau juga
biasa dipanggil dengan al-Shiddiqiyah yang dinisbatkan kepada al-Shiddiq yaitu
orang tuanya sendiri Abu Bakar, kekasih Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Seorang
wanita mulia dan istimewa dimana sebagian dari ilmu agama kita ini diambil
darinya. Begitu banyak keutamaan dan kemuliaan yang dimilikinya, semoga Allah
meridhainya dan mengumpulkannya dengan kekasihnya yang paling dicintainya yaitu
Nabi kita Muhammad SAW.
1. Kecintaan Rasulullah kepadanya
melebihi kecintaannya kepada istri-istri beliau yang lainnya yang semuanya ada
9 orang. Pada suatu ketika Rasulullah ditanya, “Siapakah orang yang paling
engkau cintai ?” maka beliau menjawab, “Aisyah” Hal ini didasarkan kepada
hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Amr bin ‘Ash, dimana dia
datang kepada Nabi seraya bertanya,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang
paling engkau cintai?” beliau menjawab,”Aisyah” kemudian Amr bin Ash bertanya,
“Siapakah orang lelaki yang paling engkau cintai?”beliau menjawab,”Bapaknya
(Abu Bakar)”. Dia bertanya, “Kemudian siapa lagi?” beliau menjawab,”Umar”,
yakni Ibnu Al Khaththab, semoga Allah meredhai semuanya.
2. Malaikat menyampaikan salam untuknya
bukan hanya sekali. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim darinya (Aisyah), dimana Rasulullah telah
bersabda, “Sesungguhnya Jibril telah mengucapkan salam untukmu”, maka aku
menjawab,”Alaihis as-Salam”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar