Kamis, 10 Oktober 2013


AISYAH: PEREMPUAN YANG PATUT DITELADANI

Aisyah binti Abu Bakar Abdullah bin Abi Khafafah berasal dari keturunan mulia suku Quraisy at-Taimiyah al-Makkiyah adalah putri kesayangan dari sahabat Nabi SAW. Abu Bakar Al-Shiddiq dari istri keduanya Ummu Ruman binti Amir karena istri pertama Abu Bakar telah diceraikannya setelah tidak mau diajak untuk masuk ke dalam ajaran Islam. Aisyah sendiri termasuk golongan orang yang pertama masuk Islam, hal ini karena memang kedua orang tuanya sudah memeluk Islam dan termasuk orang yang pertama masuk Islam, sehingga Aisyah berkata:” Sebelum aku berakal, kedua orang tuaku sudah menganut Islam.”
Aisyah adalah seorang perempuan cerdas dan berwibawa, sosok perempuan cantik yang dermawan, sabar dan sangat dicintai oleh Rosulullah, yang menjadi teladan bagi seluruh perempuan muslim di dunia. Selain itu dia juga dikenal sebagai politisi yang handal dan pandai dalam strategi perang, sesuatu hal yang tidak banyak dipunyai oleh perempuan saat itu dan bahkan perempuan masa kini. Dia lahir sebelum tahun 610 Masehi.
Rosulullah menikahi Aisyah setelah 6 tahun wafatnya Khadijah. Menjadi istri ketiga Rosulullah setelah Rosulullah Saw menikah dengan Saudah binti Zam’ah. Aisyah menikah dengan Rosulullah pada usia 7 tahun, tetapi Aisyah baru serumah dengan Rosulullah ketika dia berusia 9 tahun setelah Nabi Saw berhijrah ke Madinah. Aisyah menjadi satu-satunya istri Rosulullah yang dinikahi ketika masih gadis karena semua istri Rosulullah adalah janda. Diusianya yang belum dewasa dan masih kecil (belum genap sepuluh tahun) Aisyah sudah menjadi istri Rosulullah, dan Rosulullah sangat memakluminya sehingga beliaupun membiarkan Aisyah bermain-main bersama teman-temannya.
Di usianya yang masih belia Aisyah telah dikenal sebagai periwayat hadis yang handal. Ia telah meriwayatkan  2210 hadis, 297 diantaranya terdapat di dalam kitab Hadis Bukhari-Muslim. Hafalannya sungguh luar biasa. Banyak sahabat Rasulullah yang sering menanyakan asal usul suatu hadis kepadanya, termasuk juga Umar bin Khatab, sang khalifah. Ia dikenal sebagai sosok perempuan cerdas, pandai berdiplomasi, memiliki lisan yang fasih dan jika  berbicara mampu menarik setiap telinga yang mendengarnya. Urwah bin Az-Zubair ra  suatu ketika pernah berkata : ” Aku tidak melihat ada seseorang yang lebih pandai dalam ilmu agama, lebih pandai dalam bidang kedokteran dan lebih pandai dalam bidang syair daripada  Sayyidah Aisyah ra. ”
Pada perang Khandaq, diberitakan bahwa Umar bin Khatab terpaksa menegur Aisyah karena keberaniannya  yang luar biasa maju menerobos ke bagian depan barisan pasukan hingga membahayakan keselamatan dirinya. Anas bin Malik ra meriwayatkan, ia berkata : ”Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. Pada hari itu, aku melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaiannya, untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb.”
Aisyah berpendapat bahwa beraktifitas adalah merupakan keharusan dan tuntutan bagi setiap perempuan. Setiap perempuan tidak boleh hanya duduk di dalam rumah tanpa berpikir untuk melakukan sesuatu yang berguna yang dapat membantu meringankan beban lingkungannya  namun tentu saja tanpa mengabaikan peran utamanya di rumah dan mendidik anak-anaknya.  Allah swt memang tidak menganugerahi Aisyah seorangpun anak.  hingga dengan demikian ia dapat secara maksimal mencurahkan seluruh kehidupannya bagi masyarakat dan lingkungannya. Ia berkata : ” Alat tenun di tangan seorang perempuan bisa bernilai lebih baik dari tombak di tangan orang yang berjuang dijalan Allah SWT ”.
Adakah Perempuan Sekarang Seperti Aisyah?
            Membaca kepribadian Aisyah, penulis lebih tertarik membandingkan dengan perempuan sekarang ini. Karenanya penulis akan memaparkan beberapa hal mengenai Aisyah. Sosok Aisyah R.A adalah termasuk seorang perempuan yang sangat zuhud dan qanaah.  Zuhud, wara' menyukai ibadah, sederhana, baik dan penuh kasih sayang menjadi kepribadian Aisyah R.A.
Dari sekian banyak akhlak baik yang melekat pada Aisyah, ada 3 hal yang membuat saya takjub dan berpikir bahwa perempuan zaman sekarang, termasuk saya  harus benar-benar terus mengingat ini dalam berinteraksi dengan sesama.
Pertama, Aisyah sangat menjaga diri dari ghibah. Zaman sekarang perempuan mana yang tidak suka bergunjing (ghibah). Bahkan tanpa bertatap wajah saja pergunjingan dan percakapan yang menyakiti hati orang lain bisa terjadi. Dunia maya menjadi ajang ghibah. Tekhnologi menjadi ajang untuk berbagi -berbagi aib saudaranya- tanpa malu diketahui publik.
Aisyah tidak pernah mau menjelekkan orang lain, hatta itu madunya sendiri. Meskipun pernah terjadi percekcokan atau rasa cemburu antara beliau dengan istri-istri Nabi yang lain, tetapi tak pernah sekalipun Aisyah menjelekkan mereka. Aisyah dengan lapang dada dan luas hati menyebutkan kelebihan dan keistimewaan masing-masing madunya dengan perkataan yang terpuji.
Kedua, Aisyah sangat menghindari pujian dan sanjungan. Aisyah sangat tidak suka dirinya dipuji.Begitu juga jika disanjung di depan umum. Berbeda sekali dengan perempuan sekarang  yang selalu haus akan pujian. Tak henti mencari perhatian orang lain hanya sekedar mendapatkan sanjung dan puji. Memamerkan kelebihan diri (kecantikan) di depan khalayak dan melupakan rasa malu.
Pernah suatu saat Ibnu Abbas ingin menemui Aisyah menjelang ajalnya. Tetapi Aisyah tahu bahwa Ibnu Abbas pasti akan memuji-muji, sehingga ia menolak kedatangannya. Namun, setelah banyak orang memohon padanya akhirnya Ibnu Abbas diizinkan masuk. Dan terbukti. Ibnu Abbas kembali memujinya. Saat itu Aisyah berkata " aku ingin dilupakan orang."
Bagaimana dengan perempuan sekarang? Kebalikan dari Aisyah, sangat suka disanjung dan dipuji. Bahkan terkadang ujub selalu menemani dirinya.
Ketiga, Aisyah adalah sosok pemberani. Aisyah merupakan perempuan pemberani. Tak jarang ia ikut andil dalam peperangan yang berlangsung.  Pada saat perang khandaq, Ia turun dari benteng melindungi Nabi, para istrinya, dan anak-anak. Bahkan ia ikut maju kebarisan terdepan. Perang Uhud pun, Aisyah juga ikut terjun ke medan perang. Saat itu, ketika pasukan kaum muslimin kocar kacir, ia turun langsung memberi minuman pada orang-orang yang terluka, dan mengusung bejana air untuk diberikan kepada para mujahid.
Keutamaannya dan Keluasan Ilmunya
Beliau, Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq,atau juga biasa dipanggil dengan al-Shiddiqiyah yang dinisbatkan kepada al-Shiddiq yaitu orang tuanya sendiri Abu Bakar, kekasih Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Seorang wanita mulia dan istimewa dimana sebagian dari ilmu agama kita ini diambil darinya. Begitu banyak keutamaan dan kemuliaan yang dimilikinya, semoga Allah meridhainya dan mengumpulkannya dengan kekasihnya yang paling dicintainya yaitu Nabi kita Muhammad SAW.
1.      Kecintaan Rasulullah kepadanya melebihi kecintaannya kepada istri-istri beliau yang lainnya yang semuanya ada 9 orang. Pada suatu ketika Rasulullah ditanya, “Siapakah orang yang paling engkau cintai ?” maka beliau menjawab, “Aisyah” Hal ini didasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Amr bin ‘Ash, dimana dia datang kepada Nabi seraya bertanya,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?” beliau menjawab,”Aisyah” kemudian Amr bin Ash bertanya, “Siapakah orang lelaki yang paling engkau cintai?”beliau menjawab,”Bapaknya (Abu Bakar)”. Dia bertanya, “Kemudian siapa lagi?” beliau menjawab,”Umar”, yakni Ibnu Al Khaththab, semoga Allah meredhai semuanya.
2.      Malaikat menyampaikan salam untuknya bukan hanya sekali. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim darinya (Aisyah), dimana Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya Jibril telah mengucapkan salam untukmu”, maka aku menjawab,”Alaihis as-Salam”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar